Ritual Sebelum Bertanding: Takhayul Atau Fakta?

Ritual Sebelum Bertanding: Takhayul Atau Fakta?

Updated: 29 Aug 2019 | Written By: Pocari Sweat

Pernahkah melihat pemain yang menepuk – nepuk kakinya sebelum masuk ke lapangan? Atau teman setim yang harus memakai gelang tasbih pemberian orang tuanya agar lebih tenang? Atau melihat video Instagram para pemain Black Steel Manokwari bernyanyi dan menari dengan musik ala Indonesia Timur di tempat locker saat piala AFF? Tapi apakah benar yang mereka sebut sebagai “ritual” itu berguna?

APA ITU RITUAL SEBELUM BERTANDING?

Mungkin Anda berpikir ritual adalah sesuatu yang berbau takhayul/mistis. Dalam dunia psikologi olah raga, “ritual” mengacu pada pemikiran dan perilaku yang atlet tampilkan secara berurutan SEBELUM melakukan kegiatan olah raga yang spesifik (Moran, 1996). Misalnya sebelum masuk ke lapangan atau sebelum melakukan free kick.
Dengan kata lain, pemain melakukan ritual sadar tidak sadar secara berulang saat latihan atau pertandingan sehingga membentuk kebiasaan. Ritual atau yang secara ilmiah disebut “pre-performance routine” atau “pre-game routine” ini dapat dilakukan sendiri atau bersama tim.

APA FUNGSI PRE-PERFORMANCE ROUTINE?

Manusia cenderung melakukan sesuatu karena mendapatkan manfaat yang diharapkan atau dibutuhkan (Brewer, 2009). Jika ia mendapat manfaat positif dari ritual, maka ia akan terus mengulangi perilakunya. Contohnya pemain yang berbicara pada diri sendiri sebelum penalty :

Penalty merupakan situasi penuh tekanan. Ritual tersebut membantu pemain memiliki ritme tersendiri dan penguasaan diri untuk menghadapinya (Ekeocha, 2015). Selain itu, ritual dapat membantu Anda untuk:

Memiliki sesuatu yang konsisten terlepas dari perubahan situasi (Ekeocha, 2015).

  • Mengatur emosi untuk tetap tenang di bawah tekanan (Ekeocha, 2015).
  • Meningkatkan konsentrasi untuk melakuan tugas tertentu (Cotterill, 2010
  • Merelakskan otot (Loehr, 1986)

Sebaliknya, jika hasilnya buruk pemain mungkin menghindari ritual tersebut dan mencari ritual lain yang efektif untuknya.

JADI, APAKAH RITUAL SEBELUM BERTANDING ITU TAKHAYUL ATAU FAKTA?

Perbedaan pada takhayul (superstitious behaviour) dan ritual/pre-performance routine adalah atlet merasa dikontrol oleh takhayul yang tidak memberi jaminan akan meningkatkan performa. Atlet yang percaya takhayul percaya bahwa sesuatu/yang ia lakukan membawa keberuntungan atau mengontrol faktor eksternal (Wimack, 1992). Seringkali tindakan tersebut irasional dan tidak masuk akal.

Sedangkan pre-performance routine adalah hal yang disadari dan dipelajari atlet untuk meningkatkan performanya (Cohn, 1990). Dengan kata lain, nilai sesungguhnya dari ritual/ pre-performance routine ini adalah efek yang ditimbulkan di dalam diri atlet; semakin percaya diri, terkontrol, dan tenang. Bukan meningkatkan “hoki” atau membuat lawan menjadi lemah. Tanyakan pada diri Anda: “Apakah ini membantu saya tampil lebih baik?”. Jika jawabannya ya, lakukan dan jadikan itu kebiasaan berulang.

Reference List

Brewer, Britton W. (2009). Handbook of Sports Medicine and Science Sport Psychology. Oxford: Wiley-Blackwell Publishing. Cohn, P. J. (1990). Preperformance routines in sport: Theoretical support and practical applications. The Sport Psychologist, 4, 301-312

Cotterill S (2010) Pre-performance routines in sport: Current understanding and future directions. Int Rev Sport Exer Psych 3(2): 132-153


Ekeocha, Tracy C. (2015). The Effects of Visualization & Guided Imagery in Sports Performance. (Graduate Thesis and Dissertations).

Lidor R, Tenenbaum G (1993) Applying learning strategy to a basketball shooting skill: A case study report, Bitnu’a 108-126

Loehr, James E. (1986). Mental Toughness Training for Sports : Achieving Athletic Excellence. Middlesex: Plume.

Moran AP (1996) The psychology of concentration in sports performers: A cognitive analysis. Psychology Press, New York, USA

Sobhy, Sabrina K & Muran, Andrew C & Muran, John C. (2018). Emotion Regulation and Pre-Performance Routines in Competitive Sports. Research & Investigations in Sports Medicine 3(4): 1 – 3 Womack, M. 1992. “Why athletes need ritual: A study of magic among professional athletes”. Sport and religion; 191–202